Header Ads

Minat Baca Rendah, Tapi Cerewet Banget! Itulah Netizen Indonesia?

Dunia Perpustakaan | Minat Baca | Biasanya kalau di zaman dahulu, mereka-mereka yang masih punya sedikit ilmu karena belum banyak baca buku, biasanya orangnya itu lebih banyak diem dan malu untuk bicara.

Alasanya sederhana, takut kalau-kalau apa yang dibicarakan itu salah dan tidak tepat.

Namun coba lihat di sosial media kita hari ini?

Bermula dari ungkapan netizen yang menjadi viral di media sosial, dimana dalam screenshot yang beredar berbunyi,

"Menurut UNESCO, minat baca orang Indonesia hanya 0,001! Indonesia berada di urutan ke-2 dari bawah dalam hal keliterasian dunia, di bawah Botswana.

Tapi lebih dari 60 juta penduduk Indonesia punya gadget, yang menjadikan Indonesia urutan ke-5 terbanyak dalam hal kepemilikan smartphone.

Namun yang menarik, meski minat baca rendah, tapi dalam hal "kecerewetan" di sosial media, penduduk Indonesia berada di urutan ke-5 sebagai negara paling cerewet di dunia. Sedangkan Jakarta adalah kota paling cerewet di dunia maya karena setiap detik ada 15 tweet.

Dari data dan fakta diatas, anda bisa membayangkan, Tidak suka baca tapi bisa jadi penduduk paling cerewet? Jadi jangan heran jika negara Indonesia menjadi konsumen yang empuk untuk info provokasi, hoax dan Fitnah!

Apakah anda termasuk konsumen dari info-info hoax tersebut, atau justru yang paling sering like dan share hoax tersebut?"

Dari tulisan tersebut diatas, mari kita buktikan, apakah data-data yang disebut diatas hoax, fitnah, atau hanya karangan tanpa dasar yang jelas?

Terkait dengan penyebutan bahwa "Indonesia berada di urutan ke-2 dari bawah dalam hal keliterasian dunia, di bawah Botswana."

Pada bulan Agustus 2016 yang lalu, kompas sudah mempublikasikan terkait Minat Baca Indonesia Diurutan ke 60 dari 61 Negara.

(Baca juga: Antara PISA dan Pengiriman Buku GRATIS yang Dipersulit!)

Dan terkait dengan data bahwa Jakarta adalah kota dengan jumlah tweet terbanyak di dunia itu juga benar adanya.

Data tersebut diambil dari semiocast.com, dimana website tersebut memang mendata terkait aktivitas sosial media termasuk twitter.

Dari data-data tersebut diatas tentunya kita meyakini bahwa apa yang tertulis diatas, semunya adalah kebenaran berdasarkan data dan fakta.

(Baca juga: Kurangi Cerewet di Sosial Media, Perbanyaklah Baca Buku!)

Perlu anda catat juga bahwa data tersebut baru menyebutkan di twitter saja, jadi bisa dibayangkan kalau datanya ditambahkan dengan data dari aktifitas di facebook dan media sosial lainya, bisa-bisa makin cerewet lagi kita?

Bahkan jika anda ingin membuktikan sendiri, silahkan anda bisa melihat data dan fakta di sekitar anda. Kita pasti akan sulit menemukan orang membaca, tapi begitu buka akun media sosial, kita menemukan di setiap detiknya, banyak teman-teman kita yang begitu "CEREWET" update status di berbagai sosial media.

Semoga saja dari data-data tersebut diatas, kita bisa menjadikan hal tersebut sebagai WARNING dan kehati-hatian kita saat beraktifitas di sosial media.

SOLUSI

Sebagai solusi atas kondisi hal ini, maka diperlukan peran semua pihak, agar kondisi ini tidak semakin memprihatinkan.

Caranya, bisa dimulai dari diri sendiri untuk semakin rajin membaca buku. Jika secara pribadi sudah meningkatkan budaya baca buku, selanjutnya bisa kita tularkan kebiasaan baca buku tersebut kepada keluarga, tetangga, teman kerja, teman nongkrong, teman ngopi, dan seterusnya.

Anda juga bisa berkontribusio aktif dalam berbagai kegiatan yang mendukung kemajuan literasi di berbagai daerah di Indonesia. Diantaranya seperti ikut memberikan bantuan buku gratis ke TBM, dan sejenisnya.

Akan lebih keren lagi jika kita bisa membuat perpustakaan pribadi di rumah kita masing-masing, yang kemudian bisa difungsikan sebagai tempat beljar keluarga dan masyarakat tetangga sekitarnya.

Jika hal ini dilakukan satu orang, mungkin akan terkesan biasa dan seolah tak berimbas apa-apa.

Namun anda bisa membayangkan, jika gerakan ini dilakukan oleh setiap orang, setiap keluarga, setiap RT, setiap Desa, setiap[ Kecamatan, setiap Kabup[aten/Kota, Propinsi, maka tentunya ini suatu gerakan yang LUAR BIASA!

Namun jika melakukan kebaikan saja belum bisa, maka minimal jangan jadi bagian dari PERUSAK bangsa ini dengan ikut membuat dan menyebarkan HOAX tak berguna!

Salam....

Redaksi