Antara PISA dan Pengiriman Buku GRATIS yang Dipersulit!


Dunia Perpustakaan | Akhir-akhir ini beberapa media banyak yang sedang membicarakan terkait dengan hasil PISA (Programme for International Student Assessment) 2018.

Dari hasil PISA 2018 tersebut, bisa disimpulkan mayoritas hasilnya dianggap cukup mengecewakan. Bahkan beberapa media nasional membuat pemberitaan tersebut dengan judul-judul yang bikin pembacanya ikut gregetan.

Menanggapi hasil PISA 2018 tersebut, pegiat literasi sekaligus salah satu dari pencetus Pustaka Bergerak Nirwan Ahmad Arsuka melalui Group Pustaka Bergerak membuat sebuah tulisan berjudul "PISA dan Padewakang".

PISA dan Padewakang

"Jika Kemendikbud masih juga mempersulit pengiriman buku gratis, ngotot mengurusnya sendiri dan tak mau membuka partisipasi aktif dan luas dari para warga sebagaimana yang pernah terjadi, maka kita memang perlu mencari cara lain untuk menyebarkan khazanah pengetahuan ini.... " | Nirwan Ahmad Arsuka

Kawan-kawan yang baik, kita memang patut prihatin dengan rendahnya skor negeri kita dalam peringkat nilai PISA (Programme for International Student Assessment) yang diumumkan beberapa hari lalu. Skor kita tahun 2018 bahkan lebih rendah dari 3 tahun sebelumnya, 2015.

Tentu ada banyak penyebab rendah dan merosotnya kemampuan baca, sains dan matematika negeri kita.

Jangan-jangan, pandangan hidup yang kurang menghargai dunia dan seisinya ini, yang lebih mengutamakan "kehidupan yang akan datang", itu memang punya pengaruh kuat dalam menurunkan skor PISA.

Kemampuan memahami bacaan, menikmati matematika dan sains itu, memang berkaitan langsung dengan dunia ini. 

Yang jelas, posisi puncak PISA itu diduduki oleh Cina yang komunis, disusul oleh negara-negara yang mayoritas penduduknya Cina. Tak heran memang jika 14 abad lebih yang silam ada seruan untuk belajar sampai ke Negeri Cina.


Penyebab lain yang bisa disebut adalah buruknya penyebaran khazanah pengetahuan ilmiah kita.

Buku-buku bermutu yang membuka kekayaan matematika dan sains, yang menghidupkan pemikiran kritis dan kreatif, masih sangat sedikit jumlahnya dan tak merata penyebarannya.

Jika Kemendikbud masih juga mempersulit pengiriman buku gratis, ngotot mengurusnya sendiri dan tak mau membuka partisipasi aktif dan luas dari para warga sebagaimana yang pernah terjadi, maka kita memang perlu mencari cara lain untuk menyebarkan khazanah pengetahuan ini. Termasuk antara lain dengan menitipkan sejumlah buku itu ke perahu padewakang yang akan berlayar melewati pulau-pulau kecil ke Australia, walau dampaknya mungkin tak langsung terlihat.

Selain problem distribusi, kita juga punya pekerjaan translasi dan produksi pengetahuan, yang harus kita kerjakan bersama-sama.
-----------

Dari tulisan diatas, kita sewajibnya lebih fokus untuk bersatu mencari solusi agar hasil PISA di tahun-tahun berikutnya bisa lebih baik lagi.

Caranya dengan tetap terus bergerak bersama, menyebarkan literasi sesuai dengan peran dan fungsinya masing-masing.

Untuk para pegiat literasi, tentunya harus tetap semangat dan fokus BERGERAK, mau seperti apapun hasil PISA, ditambah berbagai kesulitan birokrasi dengan berjuta dalih yang mempersulit pergerakan para pejuang literasi, teruslah BERGERAK dengan berbagai cara dan kreativitas agar gerakan literasi bisa terus BERGERAK ke penjuru negeri.

Untuk Kemendikbud dan birokrasi terkait, anda tentunya sudah melihat sendiri hasil PISA, yang itu dianggap mempermalukan reputasi anda di kancah dunia, maka ada baiknya untuk mengupayakan supaya program pengiriman buku gratis bisa dijalankan lagi.

Mungkin program pengiriman gratis oleh beberapa pihaka ada yang bilang jika itu tidak ada manfaatnya, namun anda perlu melihat langsung senyum para pegiat literasi di daerah-daerah yang sangat terbantu atas program tersebut.

Lihat juga senyum para anak-anak di daerah yang mereka nyaris begitu terbatas menerima buku bacaan, namun dengan adanya program pengiriman buku gratis tersebut, mereka bisa membaca buku-buku yang mampu memberikan pengetahuan untuk mereka.

Bagi para donatur buku, program pengiriman gratis menjadi motivasi untuk mereka yang tadinya enggan kirim buku karena biaytanya yang mahal, namun dengan adanya progrqam tersebut, mereka bersatu bergerak membagikan buku-buku mereka ke pelosok negeri.

Terakhir, mau ada PISA ataupun tidak, hakikatnya, apa yang sudah dilakukan oleh para pejuang literasi seperti Pustaka Bergerak dan komunitas sejenis lainya, telah memebrikan dampak positif dalam gerakan literasi di Indonesia.

Mau terdata ataupun tidak, dengan yang mereka para pejuang literasi lakukan, mereka takan peduli karena mereka hanya punya mimpi dan tujuan untuk terus BERGERAK, sebarkan literasi di penjuru bumi pertiwi.

Dan perlu dicatat juga, para pejuang literasi bukanlah orang-orang yang meminta gaji dan tunjangan yang menggerogoti duit negari ini. Mereka hanyalah orang-orang yang dianggap biasa, namun punya kepedulian yang begitu luar biasa atas kondisi literasi di negeri ini, sehingga mereka ingin menjadi bagian dari gerakan literasi yang memang dianggap memprihatinkan ini.

Salam untuk terus BERGERAK!

Redaksi