Header Ads

Daftar Tajuk Subjek Perpustakaan Nasional


Dunia Perpustakaan | Untuk mereka para pustakawan/pengelola perpustakaan yang pernah kuliah di Jurusan Ilmu Perpustakaan, istilah Tajuk Subjek mungkin tak asing lagi (walaupun beberapa masih banyak yang kurang faham).

Namun untuk beberapa kalangan pengelola perpustakaan yang tidak pernah mengenyam kuliah di Jurusan Ilmu Perpustakaan, apalagi belum pernah mengikuti diklat maupun kegiatan lain yang dibahas terkait dengan tajuk subjek, maka istilah Tajuk Subjek masih dianggap asing, bahkan beberapa masih bingung apa itu fungsi dari Tajuk Subjek?

Untuk anda yang mungkin masih bingung, apa sih sebenernya yang dimaksud dengan Tajuk Subjek Perpustakaan Nasional?

Tulisan ini mengulas secara lengkap dan tuntas terkait dengan Tajuk Subjek. Di bagian bawah juga kami sertakan versi PDF yang bisa anda download untuk anda baca dan pelajari terkait dengan Tajuk Subjek ini.

Pengertian Tajuk Subjek

Tajuk subjek adalah kata, istilah atau frasa yang digunakan pada katalog atau daftar lain untuk menyatakan tema atau topik suatu bahan perpustakaan. Suatu entri subjek adalah entri katalog dengan tajuk subjek sebagai media penyusunan (filing medium).

PENDAHULUAN

A. PRINSIP – PRINSIP TAJUK SUBJEK PERPUSTAKAAN NASIONAL

Setiap bahan perpustakaan hasil seleksi perlu pengorganisasian secara sistematis, agar mudah dicari dan ditemukan. Bahan perpustakaan tersebut beraneka ragam bentuk, yaitu : buku, majalah atau berkala/ laporan, himpunan atau kumpulan karya, lembar lepas/ cetak biru, peta, gambar, lukisan, dan bahan audio visual seperti film/ piringan hitam dan kaset.

Berdasarkan isi bahan perpustakaan juga beraneka ragam yaitu : umum, mencakup semua cabang ilmu pengetahuan, atau khusus yang hanya mencakup salah satu cabang ilmu pengetahuan yang terinci menurut bagian-bagian dan seksi-seksi.

Berdasarkan tingkat kesulitannya koleksi perpustakaan juga berbeda, semakin besar koleksi perpustakaan akan semakin kompleks dan rumit pula pengorganisasiannya. Pengorganisasian koleksi perpustakaan umumnya dilaksanakan dalam dua tahap :

  1. Penyusunan bahan pustaka yang ada dalam rak, lemari atau tempat lain sesuai bentuknya, dilakukan secara sistematis yaitu menurut sistem klasifikasi tertentu,
  2. Pembuatan katalog bentuk kartu, buku atau dalam bentuk "online". Setiap bahan perpustakaan, baik yang berupa buku atau bentuk fisik lain, akan dibuatkan uraian singkat yang disebut entri katalog.

Unsur-unsur entri katalog antara lain : pengarang, judul, tempat terbit, nama penerbit, tahun terbit, dan jumlah halaman. Setiap bahan perpustakaan dibuatkan entri katalog menurut peraturan baku, jumlah entri tergantung jumlah pengarang, jumlah topik, dan sebagainya. Entri-entri tersebut disusun menurut susunan tertentu.

Pedoman ini hanya akan menguraikan tentang katalog subjek yang disusun secara alfabetis, yang juga hanya merupakan satu aspek yaitu tajuk subjek. Proses pembuatan tajuk subjek dalam katalogisasi disebut pengatalogan subjek (subject cataloging). Pengatalogan subjek adalah mendaftarkan di bawah satu kata atau istilah atau frasa yang seragam dari semua bahan perpustakaan tentang suatu subjek tertentu yang dimiliki oleh perpustakaan.

Bahan perpustakaan diwakili oleh entri dalam katalog atau daftar lain untuk memberikan informasi lengkap tentang bahan perpustakaan berdasarkan subjek tertentu. Entri subjek adalah alat referens dalam katalog yang memungkinkan pembaca dan petugas menemukan dengan cepat bahan perpustakaan yang dicari.

Tajuk subjek adalah kata, istilah atau frasa yang digunakan pada katalog atau daftar lain untuk menyatakan tema atau topik suatu bahan perpustakaan. Suatu entri subjek adalah entri katalog dengan tajuk subjek sebagai media penyusunan (filing medium).

Berikut ini kami berikan beberapa contoh entri dalam bentuk kartu. Tajuk subjek tercantum pada bagian teratas dari tiap kartu subjek yang disebut tajuk (heading). Contoh tajuk subjek di bawah ini adalah : Hukum agraria; Indonesia — Peta; Kesusastraan Malaysia; Penduduk; Peternakan


B. TUJUAN PENGATALOGAN SUBJEK

Tujuan pengatalogan subjek adalah mendaftarkan subjek tertentu di bawah kata, frasa atau istilah yang seragam untuk koleksi perpustakaan atau lembaga informasi lainnya. Teknis pengetikan tajuk subjek dapat menggunakan cetak tebal atau huruf kapital untuk membedakan dari tajuk yang lain.

Daftar tajuk subjek tercetak seperti: Library of Congress Subject Headings telah mengubah pikiran dan pengalaman para pustakawan di berbagai perpustakaan, terutama perpustakaan perguruan tinggi dan khusus. Dengan menggunakan daftar tersebut sebagai basis tajuk tertentu, pengatalog mempunyai standar yang dapat diandalkan. Konsistensi dan spesifikasi tajuk subjek diperoleh dengan mengambil dari daftar yang telah dibuat dan dicatat. Dengan mengikuti pola tajuk subjek pada daftar, pengatalog akan mampu menambah beberapa tajuk baru yang sesuai dan membuat referensi silang.

C. LANGKAH-LANGKAH PENENTUAN SUBJEK

Langkah pertama pengatalogan subjek adalah menentukan subjek yang benar dari bahan perpustakaan yang dikatalog. Dalam banyak hal, penentuan subjek tidak mudah dilakukan, karena isi bahan perpustakaan terlalu kompleks atau judulnya kurang informatif, sehingga pengatalog harus membaca daftar isi, kata pengantar, pendahuluan, bahkan sebagian isinya. Misalnya buku dengan judul Kimia kebahagiaan.

Tampaknya isi buku tersebut berkaitan dengan ilmu kimia, ternyata setelah diteliti, isinya membahas tentang tasawuf. Dengan demikian, subjeknya adalah “tasawuf”.

Ada beberapa prinsip yang harus diikuti dan dipahami dalam penentuan tajuk subjek yaitu:

  • Entri spesifik dan langsung,
  • Keterpakaian/kegunaan umum, 
  • Keseragaman, 
  • Tajuk bentuk, 
  • klasifikasi dan tajuk subjek.


1. Spesifik dan Langsung

Prinsip spesifik sangat penting, baik dalam pembuatan maupun pemakaian subjek katalog modern. Aturan dasar pembentukan entri spesifik dan langsung yaitu memasukkan sebuah karya langsung di bawah istilah yang paling spesifik, yang mewakili isi karya tersebut secara akurat dan tepat. Tajuk subjek yang dipilih untuk suatu bahan perpustakaan harus setepat mungkin sesuai dengan topik bahan perpustakaan yang dikatalog, bukan di bawah tajuk yang lebih luas.

Sebagai contoh, bila isi suatu karya adalah tentang tanaman kangkung, maka tajuk yang dipilih untuk karya itu adalah “kangkung”, bukan tajuk yang lebih luas pengertiannya seperti “tanaman air” atau “tanaman”.

Setelah menemukan entri yang paling spesifik, yang mewakili subjek tersebut, pengatalog tidak harus membuat lagi entri di bawah tajuk subjek yang lebih luas. Prinsip ini menyatakan bahwa sebuah topik dirumuskan dengan istilah khusus, bukan bagian dari tajuk yang lebih luas. Istilah spesifik menunjuk pada kata/frasa yang mengandung pengertian subjek dari pekerjaan. Tajuk harus sespesifik mungkin sehingga memuat topik yang diinginkan.

Contoh:

Judul tentang Kakaktua, harus ditulis di bawah tajuk yang tersedia secara khusus yaitu “kakaktua”, tidak diletakkan di bawah tajuk “burung” atau “burung air”, sehingga pembaca tidak perlu membaca seluruh entri. Kemudian karya dengan judul: Burung-burung di samudra, tidak dimasukkan di bawah “burung”, dan di bawah “burung air”, tetapi cukup di bawah “burung air”.

Untuk mencegah duplikasi, perlu dibuatkan rujukan lihat juga guna membantu pembaca mengacu dari subjek yang lebih luas ke subjek yang lebih spesifik. Contoh: Burung LJ Burung air ; juga nama-nama burung.

Dengan demikian pemakai akan lebih mudah dan lebih cepat menemukan informasi yang diperlukan, karena jika koleksi perpustakaan mencakup berbagai topik dan disiplin ilmu, maka untuk mencari bahan perpustakaan dengan menggunakan tajuk yang luas akan banyak memakan waktu.

Jika tajuk spesifik tidak ditemukan dalam daftar, maka pengatalog harus mencari tajuk yang lebih luas cakupannya sesuai dengan karya tersebut. Sebagai contoh, kata ”cemara” (nama pohon) tidak ditemukan dalam daftar. Jadi di bawah subjek yang lebih luas ”pohon”, rujukan umum dibuat lihat juga nama jenis pohon, ump. Cemara.

Contoh lain, karya yang membahas tentang masakan Cina dan masakan Eropa dan pengatalog tidak menemukan keduanya dalam daftar tajuk, maka tajuk di bawah subjek yang lebih luas diberikan rujukan umum lihat juga.

Contoh : Masakan 
         LJ nama jenis masakan, ump. Masakan Cina; Masakan Eropa

Dengan demikian, pengatalog mempunyai kewenangan untuk menggunakan dua tajuk Masakan Cina dan Masakan Eropa.

2. Keterpakaian

Pada pengambilan kata kontemporer yang sama telah digunakan istilah, seperti: ”kesejahteraan keluarga” bukan ”ekonomi rumah tangga”. Walaupun saat ini mungkin muncul istilah yang lebih baru yaitu: ”kesejahteraan keluarga” atau ”pengelolaan rumah tangga”, tetapi untuk mengubah tajuk tidak selalu mudah.

Terminologi mengalami perubahan secara perlahan dan pada kasus ”ekonomi rumah tangga” istilah ini masih digunakan, dan penggunaan yang lebih baru belum distandarkan. Kata atau frasa yang digunakan untuk membuat sebuah tajuk subjek harus dipilih yang umum dipakai, atau paling tidak dipakai oleh kelompok pembaca karya tersebut.

Prinsipnya, bila ada beberapa pilihan, maka dipilih kata atau frasa yang populer atau umum digunakan daripada istilah ilmiah atau istilah teknis yang belum dikenal. Tajuk subjek dipilih untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang diperkirakan akan menggunakan katalog tersebut. Tajuk subjek ini menggunakan istilah yang lebih lazim di kalangan mereka, misalnya ”ornitologi” bukan ”ilmu tentang burung”.

Setelah memilih istilah yang paling umum sebagai tajuk, pengatalog harus membuat rujukan dari istilah ilmiah ke bentuk yang digunakan. Pemilihan yang tepat hanya dapat dicapai melalui pengalaman atau pengkajian.

Contoh :
Aborsi atau Pengguguran
Lagu atau Nyanyian atau Kidung atau Madah Lembu atau Sapi atau Jawi


3. Keseragaman

Prinsip penting lain yang perlu dipertimbangkan adalah keseragaman. Bila terdapat beberapa kata yang mempunyai pengertian sama (sinonim), perlu ditetapkan satu untuk digunakan sebagai tajuk secara taat asas.

Misalnya, perabot keramik dari Cina atau barang pecah belah (chinaware), dan porselen dimasukkan di bawah tajuk “porselen”. Ini menunjukkan bahwa tajuk subjek harus inklusif, mencakup topik, dan tidak bermakna ganda. Jika beberapa pengertian diberikan dalam satu topik, kata tersebut harus cocok/tepat/harus diklarifikasikan, misalnya : Belerang bukan Sulfur.

Ketika satu jenis telah digunakan, maka setelah diseleksi harus digunakan seragam. Tajuk juga dapat berbentuk tunggal atau jamak. Yang akan dibahas di bawah ini adalah tata bahasa tajuk subjek.
Pada tajuk subjek beberapa kata harus digunakan secara konsisten dengan beberapa perbedaan antara etnis, geografis, dan istilah linguistik.

Kata atau frasa yang dipilih sebagai subjek harus sesuai dengan jenis (item) yang dikatalog, tetapi juga merupakan satu kelompok jenis yang sama subjeknya. Pengatalog harus mempertimbangkan untuk memilih tajuk subjek yang berhubungan bukan hanya satu jenis, tetapi karya lain yang membahas subjek yang sama dengan judul berbeda. Bila satu kata mempunyai beberapa arti, maka kata tersebut harus diperjelas dalam tanda kurung.

Contoh :
Adaptasi (Biologi)
Adaptasi (Psikologi)

Komposisi (Kesenian)
Komposisi (Musik)

Pengakuan (Hukum intemasional)
Pengakuan (Pengadilan)

Tujuan dari penambahan tersebut adalah:

  1. memperjelas arti subjek yang bersangkutan,
  2. membedakan istilah yang sama tetapi berlainan makna,
  3. membedakan istilah yang sama tetapi berlainan aspek,
  4. mempersempit ruang lingkup tajuk,
  5. mengkhususkan pengertian tajuk.


4. Tajuk subjek dibagi menjadi :


  • a. Tajuk topik
  • b. Tajuk bentuk
  • c. Tajuk geografi
  • d. Nama


4a. Tajuk Topik

Tajuk topik adalah kata atau frasa atau konsep yang mewakili isi bahan perpustakaan. Misalnya, Kesehatan, Perampokan, Korupsi.

4b.Tajuk bentuk

Tajuk bentuk terbagi atas dua jenis : pertama, tajuk bentuk yang mendeskripsikan susunan umum bahan perpustakaan serta tujuannya, misalnya almanak, direktori, ensiklopedi, gazetir ; kedua, tajuk bentuk yang merupakan nama dari bentuk sastra dan genre. Contoh : fiksi, puisi, drama, esai.

4c.Tajuk geografi

Tajuk geografi adalah nama tempat yang sudah mapan yang menunjukkan kawasan fisik dan atau yurisdiksi politik. Tajuk bentuk geografi berbeda dari tajuk subjek topik karena merujuk ke entitas yang unik bukannya abstraksi atau kategori benda. Misalnya : Jakarta, Jawa Barat, Indonesia.


4d. Nama

Nama adalah tajuk yang digunakan sebagai nama yang unik yang dibahas dalam bahan perpustakaan. Tajuk nama terdiri dari : nama diri, badan korporasi, pertemuan dan judul seragam. Contoh : Soekarno, Universitas Padjajaran, Kongres Bahasa Indonesia, Lutung Kasarung.


5. Klasifikasi dan tajuk subjek

Pengatalog harus mengenali perbedaan mendasar antara klasifikasi dan tajuk subjek untuk katalog kamus/berabjad. Pada dasarnya klasifikasi dan tajuk subjek adalah sama, yaitu menunjukkan subjek atau isi suatu bahan perpustakaan.

(1) Nomor klasifikasi

Klasifikasi, merupakan subjek yang dilambangkan dengan notasi, digunakan untuk menentukan susunan buku di rak, dan masing-masing buku hanya dapat diberi satu nomor klasifikasi. Untuk membantu para pustakawan, khususnya yang belum menguasai pekerjaan klasifikasi dan menentukan tajuk, maka pada setiap tajuk diberikan nomor klasifikasi yang diambil dari sistem Klasifikasi Persepuluhan Dewey (DDC).

Nomor klasifikasi pada DDC dan tajuk yang ada di Sears List hanya untuk menunjukkan kepada pengatalog bahwa disiplin ilmu untuk subjek tersebut cocok.

Perlu diperhatikan bahwa nomor klasifikasi yang tidak diberikan secara lengkap pada satu tajuk tertentu, harus diberikan lebih dari satu nomor klasifikasi sehingga pengatalog dapat memilih klasifikasi yang tepat sesuai dengan isi bahan perpustakaan. Oleh karena itu pengatalog harus memeriksa kembali dalam bagan DDC untuk menentukan nomor klasifikasi yang tepat dan lengkap, karena seringkali suatu subjek atau topik dapat ditinjau dari beberapa aspek atau beberapa disiplin atau beberapa cabang ilmu pengetahuan.

Contoh :
Subjek ”hak asasi” diberikan angka : 323.4; 341.48 dan 342.08 Ini berarti ”hak asasi” bila ditinjau dari sudut politik, maka klasnya adalah 323.4, tetapi jika ditinjau dari sudut hukum internasional adalah 341.48 dan, jika ditinjau dari sudut hukum tata negara, maka klasnya adalah 342.08.

Pedoman klasifikasi yang digunakan adalah DDC edisi yang terakhir, sedangkan khusus untuk agama Islam, bahasa Indonesia, kesusastraan Indonesia, sejarah/geografi Indonesia digunakan Perluasan DDC yang berhubungan dengan Indonesia, yang diterbitkan oleh Pusat Pembinaan Perpustakaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 1973.

Contoh :
Bahasa Indonesia 413 
Fiksi Indonesia 813 
Fiqih 297.4 
Indonesia -- Deskripsi 915.8 
Indonesia -- Sejarah 959.8

(2) Tajuk subjek

Tajuk subjek yang didasarkan pada daftar tajuk subjek, dilambangkan dengan kata atau frasa yang berfungsi sebagai entri katalog untuk memperjelas isi karya (biasanya tidak lebih dari tiga subjek). Satu subjek tunggal mungkin berhubungan dengan berbagai disiplin ilmu. Pengatalog harus memeriksa isi buku dan menentukan disiplin ilmu yang ditulis oleh pengarang yang bersangkutan.

Contoh
Judul buku : Dasar-dasar fisika dan kimia
Nomor klas : 530 atau 540 (pilih salah satu)
Tajuk subjek : 1. Fisika 2. Kimia (dapat digunakan dua-duanya)
Judul buku : Hisab dan rukyah
Nomor klas : 297.413
Tajuk subjek : 1. Hisab 2. Rukyah (dapat digunakan dua-duanya)

Untuk selengkapnya, silahkan bisa anda BACA dan DOWNLOAD Tajuk Subjek Perpustakaan Nasional dalam format PDF dibawah ini: